Selasa, 25 Juni 2013

What is Gaya?







Gaya adalah nama dari sebuah konfederasi yang berlokasi di lembah Sungai Nakdong di Korea bagian selatan, yang berkembang dari Konfederasi Byeonhan dari periode Samhan. Periode tradisional yang digunakan para sejarawan untuk kronologis sejarah gaya adalah tahun 42 - 532 Masehi.

Berdasarkan bukti arkeologis dari abad ke-3 sampai abad ke-4, diketahui Gaya berkembang dari gabungan beberapa kota bertembok Byeonhan. Selanjutnya Gaya diserap ke dalam kerajaan Silla, salah satu dari Tiga Kerajaan Korea. Sisa-sisa dari kebudayaan Gaya yang tersisa hanyalah komplek-komplek pemakaman yang berisikan benda-benda persembahan yang sudah diekskavasi oleh para arkeolog. Beberapa makam besar yang berasal dari akhir abad ke-3 sampai abad ke-4 seperti makam Daeseong-dong di Gimhae dan Bokcheon-dong di Busan diketahui sebagai makam dari anggota kerajaan Gaya.



Sumber : wikipedia


Kamis, 06 Juni 2013

Silla





Silla (tahun 57 Sebelum Masehi - 935 Masehi), seringkali diucapkan Shilla, adalah salah satu dari Tiga Kerajaan Korea. Silla bermula dari kerajaan kecil di Konfederasi Samhan. pada tahun 660 Masehi Silla bersekutu dengan Dinasti Tang berhasil menaklukkan kerajaan Baekje serta Goguryeo pada tahun 668. Pada masa penyatuan ini seringkali disebut sebagai masa Silla Bersatu atau Silla Selanjutnya (Hu-silla) dimana wilayah kekuasaannya mencakup semua bagian Semenanjung Korea, sementara sebelah utaranya adalah wilayah kekuasaan kerajaan baru, yang merupakan penerus dari kerajaan Goguryeo, Balhae. Setelah hampir 1000 tahun, Silla terpecah menjadi negeri-negeri kecil yang mengantarkan Korea pada masa Tiga Kerajaan Akhir Korea, dan sampai pada akhirnya semuanya diserap oleh kerajaan baru, Dinasti Goryeo tahun 935.

Dari awal pendirian sampai perkembangannya menjadi kerajaan yang besar, nama Silla tercatat dalam banyak karakter Tionghoa (hanja) yang secara fonetis mungkin ditulis berdasarkan nama dugaan dari bahasa Korea kuno yaitu: Saro; 斯盧, Sara; 斯羅, Seora-beol; 徐羅(伐), Seona-beol; 徐那(伐), Seoya-beol; 徐耶(伐), atau pun Seo-beol; 徐伐. Arti kata-kata dugaan dari bahasa Silla itu kemungkinan adalah ibukota, walaupun masih menjadi teka-teki. Pada tahun 503, Raja Jijeung menetapkan tulisan hanja “新羅” yang dibaca Silla dalam bahasa Korea modern. Karena orang Korea kini seringkali mempalatalisasikan abjad maka penyebutan kata “Silla” terdengar seperti “Shilla” di telinga pendengar bahasa lain.

Kata yang paling mendekati adalah Seora-beol, dapat ditelusuri dari unsur bahasa Silla, syeo-beul, yang berarti ibukota kerajaan, yang kemudian berubah menjadi Syeo-ul, dan akhirnya Seo-ul. Seoul yang kini dikenal adalah ibukota Korea setelah berakhirnya masa Dinasti Joseon, dimana nama saat itu adalah Hanseong atau Hanyang.

Nama Silla pada zaman kuno dikenal luas oleh masyarakat Asia Timur Laut. Orang Yamato menyebutnya Shiragi, orang Jurchen (nenek moyang bangsa Manchu menyebut Solgo atau Solho. Dalam bahasa Tionghoa penyebutannya adalah Shin Luo.

Para ahli sejarah secara tradisional membagi sejarah Silla menjadi 3 bagian periode: awal (57 SM-654 M), tengah (654-780) dan akhir (780-935).

Silla diperintah oleh 3 keluarga (klan) kuat selama berdirinya, yaitu Bak (Park), Seok, dan Kim. Klan Bak sebagai pendiri berkuasa lebih dari 3 generasi sebelum menghadapi pemberontakan oleh klan Seok. Dalam masa-masa pemerintahan pertama raja keluarga Seok, Raja Talhae, klan Kim berperan sebagai klan aristokrat (bangsawan). Ketiga klan ini saling berebut kekuasaan sepanjang sejarah Silla.

Dalam masa Proto Tiga Kerajaan (masa sebelum Tiga Kerajaan), negara-negara kecil di bagian tengah dan selatan semenanjung Korea dikelompokkan ke dalam 3 konfederasi (negara bagian) bernama Samhan. Salah satunya bernama Jinhan yang memiliki 12 buah bagian-bagian yang lebih kecil. Salah satunya adalah negeri Saro (Saro-guk) yang merupakan asal dari Silla. Negeri Saro terbagi atas 6 desa dengan 6 kelompok klan.

Berdasarkan babad Goryeo Samguk Sagi yang ditulis pada abad ke-12, Silla didirikan oleh seseorang bernama Bak Hyeokgeose tahun 57 SM di kota yang sekarang adalah Gyeongju. Menurut legenda Bak Hyeokgeose lahir dari telur kuda putih. Ketika berusia 13, ke-6 kelompok klan mengangkatnya jadi pemimpin negeri Saro.

Pembuktian lewat bukti arkeologis menunjukkan bahwa walau ada negara yang berdiri pada masa itu di wilayah Gyeongju, masih terlalu dini untuk menyebut Silla sebagai sebuah kerajaan. Penulis Samguk Sagi dari zaman Goryeo, Kim Bu-sik, mungkin mencoba untuk mengesahkan bukti berdirinya Silla dengan memberi senioritas historis di atas rivalnya, Baekje dan Goguryeo.

Dalam masa kekuasaanya, tampuk kepemimpinan Silla berganti-ganti dengan peran 3 klan terkuat.

Mulai abad ke-2 M, Silla baru muncul sebagai kerajaan yang berkembang pesat di bagian tenggara semenanjung Korea. Silla memperluas kekuasaan dan pengaruh atas Konfederasi Jinhan pada abad ke-3 dan terus menjadi kuat.

Di bagian barat Baekje telah berdiri kokoh sejak tahun 250 setelah menundukkan Konfederasi Mahan. Di bagian barat daya, Konfederasi Gaya muncul dan mengambil alih Konfederasi Byeonhan. Sementara di utara, Goguryeo yang sejak tahun 50 mulai berdiri kokoh, berhasil mengusir perwakilan militer Tiongkok terakhir dari semenanjung Korea pada tahun 313 dan terus mengancam para tetangganya.

Raja Naemul (berkuasa 356-402) dari klan Kim menetapkan sistem monarki yang turun-temurun. Gelarnya kini telah menjadi Maripgan (han atau gan), yaitu gelar serupa dengan khan pada orang Turkik dan Mongol. Pada 377, ia mengirim utusan dan menjalin hubungan dengan Goguryeo.

Silla mencoba mendekati Goguryeo karena sedang mengalami tekanan dari Baekje dan Negeri Wa[1]. Namun saat Goguryeo mulai memperluas teritori ke selatan dan memindahkan ibukotanya ke Pyongyang tahun 427, Raja Nulji mencoba mengadakan persekutuan dengan Baekje.

Pada masa Raja Bopheung (514-540), Silla telah mencapai titik penuh sebagai negara kuat. Ia pun telah menggunakan Buddhisme sebagai agama negara dan mengendalikan negara-negara kecil di sekitarnya. Sekitar tahun 530-an Konfederasi Gaya dapat ditaklukkannya.

Pada masa Raja Jinheung (540-570), Silla mengembangkan armada perang yang kuat. Ia pernah membantu Baekje merebut wilayah Sungai Han yang diduduki Goguryeo namun pada tahun 553 merebut wilayah itu dari Baekje, mengakhiri 120 tahun aliansi kedua kerajaan itu. Peiode awal Silla berakhir dengan wafatnya Ratu Jindeok pada tahun 654.


  •  Pada abad ke 7 Masehi, Silla menjalin hubungan dengan Dinasti Tang dari Tiongkok.
  •  Pada tahun 660 di bawah pemerintahan Raja Muyeol (berkuasa 654-661), berhasil menundukkan Baekje.
  •  Pada tahun 668, di bawah kekuasaan Raja Munmu Besar dan Jenderal Kim Yu-shin dengan bantuan militer Dinasti Tang, berhasil mengalahkan Goguryeo. Seluruh semenanjung Korea berhasil disatukan Silla setelah hampir 10 tahun mengusir seluruh koloni Dinasti Tang di sebelah utara. Para pelarian Goguryeo mendirikan negeri baru di timur laut semenanjung Korea bernama Balhae.

Para anggota keluarga pemimpin pada zaman Silla Bersatu digolongkan ke dalam sistem kelompok Jin-gol (keturunan tulang murni) dan Seong-gol (tulang suci) berdasarkan keturunan orang tuanya. Selain itu, sebagai akibat dari penyatuan wilayah-wilayah semenanjung Korea, para keluarga bangsawan semakin banyak mengumpulkan kekayaan. Pada masa-masa awal unifikasi terjadi beberapa kali pemberontakan oleh para pejabat istana, namun dapat ditekan oleh keluarga kerajaan dengan memindahkan mereka ke dalam jabatan-jabatan pusat. Untuk waktu yang lama, sekitar 1 abad (dari akhir abad ke-7 sampai akhir abad ke-8), kerajaan mengganti sistem penggajian pejabat dengan memberi tanah (no-geup) dengan sistem jikjeon atau dengan membayar gaji saja.

Akhir abad ke-8, klan Kim mulai menolak penggunaan sistem ini dan mulai memberontak. Pemberontakan terbesar adalah pembangkangan Kim Dae-gong yang berlangsung 3 tahun.

Periode tengah Silla berakhir dengan pembunuhan Raja Hyegong tahun 780 yang mengakhiri suksesi dari Raja Muyeol, tokoh penyatu Tiga Kerajaan. Kematiannya adalah puncak perselisihan panjang antar klan dalam kerajaan yang melibatkan sebagian besar anggota keluarga bangsawan.

Akibatnya keluarga bangsawan muncul sebagai kekuatan utama bagian internal sementara peran raja hanya sebagai tokoh kepala saja. Namun begitu, periode ini menyaksikan negeri ini pada titik puncak, dengan kuatnya hubungan dan konsolidasi keluarga kerajaan serta berhasilnya usaha mempraktekkan sistem birokrasi cara Tiongkok.

Akhir dari periode ini dinamakan Zaman Tiga Kerajaan Akhir, saat beberapa kerajaan yang mengatasnamakan pendahulunya bangkit dan memberontak seperti Hubaekje dan Hugoguryeo. Silla sendiri jatuh ke dalam pemberontakan dinasti baru, Goryeo pada tahun 935.



Sumber : wikipedia

Rabu, 29 Mei 2013

Gojoseon






Berdasarkan Dongguk Tonggam, catatan sejarah Joseon yang dikompilasikan pada tahun 1485, menuliskan Dangun mendirikan Joseon bertepatan dengan tahun ke-50 masa pemerintahan Kaisar Yao di zaman Cina kuno (memerintah antara 2357 SM - 2256 SM). Samguk Yusa, babad sejarah dan mitos yang mengutip kitab sejarah Cina juga menuliskan tanggal yang sama.

Samguk Yusa menuliskan bahwa Joseon didirikan pada tahun 2333 SM oleh Dangun, putra dewa Hwanung yang turun dari surga untuk menyatukan umat manusia di bumi.
Para sejarawan moderen yang menelusuri kebenaran Samguk Yusa menyatakan ada kesulitan untuk menghubungkan catatan sejarah dengan bukti-bukti konkrit. Bukti-bukti awal pendirian Joseon pertama kali tercatat dalam catatan-catatan sejarah Cina dan berkat penelitian arkeologi, kerajaan ini dihubungkan dengan kebudayaan perunggu yang berkembang di daerah yang dipercaya sebagai teritori Joseon Kuno.

Menurut Samguk Yusa, Dangun, sang pendiri Joseon Kuno, lahir dari pasangan Hwanung, putra dewa dan Ungnyeo, seekor beruang yang berubah menjadi manusia. Dangun memimpin Gojoseon lebih dari 1000 tahun lamanya.

Joseon berkembang mapan di periode antara abad ke-5 SM-3 SM menjadi kerajaan kuat terutama setelah penyatuan kelompok-kelompok suku.
Para arkeolog menemukan sejumlah besar artefak dan situs tempat tinggal suku Yemaek di wilayah utara Semenanjung Korea. Suku Yemaek mengusahakan pertanian sejak tahun 4000 SM. Salah satu temuan terkenal adalah palawija setengah terbakar yang ditemukan di Pyeongyang, ibukota terakhir Joseon Kuno.

Perkembangan pertanian dan permukiman di Semenanjung Korea dan Manchuria diperkirakan menyebabkan penyatuan kelompok-kelompok suku, yang berjalan seiring dengan pengenalan teknik membuat peralatan perunggu antara tahun 2000 SM-1500 SM. Legenda mengenai pendirian Joseon dapat diterjemahkan melalui proses sejarah tersebut.

Catatan sejarah Cina kuno membuktikan bahwa keberadaan Joseon Kuno cukup diketahui di Cina. Di abad ke-7 SM, Joseon telah menjalin hubungan dagang dengan dinasti-dinasti Cina.

Kemunculan Joseon sebagai kekuatan utama di wilayah Manchuria mengakibatkan perselisihan dengan Dinasti Han yang telah menyatukan Cina menjadi kekaisaran besar. Pada tahun 109 SM, Joseon diinvasi oleh sebanyak 5000 pasukan Han dan ibukota direbut. Dinasti Han mendirikan 4 koloni di wilayah Joseon, namun hanya dapat mengendalikan wilayah terbatas di ibukota dan sekitar. Sebagian besar teritori Joseon berkembang menjadi negara-negara kecil, bahkan sebelum jatuhnya Joseon. Negara-negara tersebut antara lain Buyeo di wilayah utara dan Jin di selatan.

Jatuhnya Joseon mengakibatkan berkembangnya kekuatan lokal yang membentuk negara independen melalui perlawanan terhadap koloni Han. Situasi politik baru yang berkembang di Manchuria dan Semenanjung Korea di awal abad ke-1 SM dianggap para sejarawan sebagai Periode Banyak Negara, dimana wilayah utama terpecah menjadi negara-negara kecil.

Yi Seong-gye mendirikan negara pada tahun 1392 yang diberi nama Joseon, membedakannya dengan Joseon yang terdahulu.

Tanggal pendirian Joseon Kuno masih menjadi perdebatan di antara sejarawan di Korea dan negara-negara tetangga. Rakyat Korea meyakini tahun 2333 SM secara tradisional layaknya pendiri-pendiri dinasti awal yang meyakini mereka adalah keturunan Dangun, jadi keberadaan Joseon Kuno mewakili identitas rakyat Korea yang sangat penting.
Orang Korea menyelenggarakan hari ke-3 bulan Oktober sebagai Hari Pendirian Nasional atau Gaecheonjeol yang bermakna "festival pembukaan surga". Hari libur nasional ini memperingati berdirinya sebuah kerajaan, negara pertama bangsa Korea.



Sumber : Wikipedia

Rabu, 21 November 2012

Jumong dan mitos pendirian Kerajaan Goguryeo


Jumong dan Mitos Pendirian




Penyebutan kata Jumong paling awal dicatat dalam tulisan di Prasasti Raja Gwanggaeto yang Agung yang didirikan pada abad ke-4 Masehi. Nama Jumong dapat dibaca: 朱蒙 (Jumong), 鄒牟 (Chumo), atau 仲牟 (Jungmo).

Prasasti itu menjelaskan bahwa Jumong adalah pemimpin pertama dan nenek moyang orang Goguryeo, dan ia adalah putra dari raja Buyeo dan anak perempuan dewi sungai Habaek. Samguk Sagi dan Samguk Yusa menyebutkan detail dan nama ibu dari Jumong adalah Yuhwa. Ayah kandung Jumong adalah Hae Mosu yang disebut dengan julukan laki-laki perkasa atau pangeran surga. Samguk Sagi menulis bahwa Hae Mosu adalah seorang dewa langit. Lalu Raja Buyeo memberikan tempat perlindungan bagi Yuhwa dan mengangkat Jumong menjadi putranya, kemudian menjadi pangeran. Konon, Jumong sangat berbakat, terutama dalam memanah dan berkuda sehingga membuat putra mahkota cemburu. Putra mahkota berencana membunuh Jumong dan saat mengetahui rencana itu Jumong melarikan diri dari istana. Prasasti dan sumber-sumber sejarah Korea saling berlawanan tentang asal dari Jumong. Prasasti menyebut Jumong berasal dari Buyeo Utara dan babad Samguk Sagi dan Samguk Yusa menyebut ia dari Buyeo Timur. Jumong tiba di konfederasi Jolbon Buyeo dan menikahi putri raja penguasanya. Pada akhirnya ia mendirikan Goguryeo dengan segelintir pengikutnya dari Buyeo.

Nama keluarga Jumong adalah Hae (解), nama pemimpin Buyeo. Menurut Samguk Yusa, Jumong mengubah nama keluarganya menjadi Go (高), berdasarkan asal keturunannya yang berpengaruh. Jumong tercatat menundukkan kerajaan Biryu (沸流國) pada tahun 36 SM, kerajaan Haeng-in (荇人國) pada tahun 33 SM, dan Okjeo Utara pada tahun 28 SM.


Sumber : Wikipedia

Kerajaan Goguryeo Korea


 Sejarah Pendirian Kerajaan Goguryeo




Goguryeo adalah sebuah kerajaan kuno yang menduduki wilayah Manchuria dan sebelah utara Semenanjung Korea. Goguryeo termasuk ke dalam Tiga Kerajaan Korea bersama Kerajaan Baekje dan Silla dan merupakan kerajaan yang terbesar. Goguryeo berdiri tahun 37 SM dan berakhir pada tahun 668 Masehi.

Berdasarkan Samguk Sagi, seorang pangeran dari kerajaan Buyeo Timur bernama Jumong  mengungsi setelah terjadinya perebutan kekuasaan dengan pangeran lain di kerajaan itu, dan ia mendirikan sebuah kerajaan bernama Goguryeo pada tahun 37 SM di sebuah daerah bernama Jolbon Buyeo. Diperkirakan sekarang berlokasi di tengah lembah Sungai Yalu dan Tung-chia di perbatasan Korea Utara dan Manchuria. Beberapa sejarawan meyakini bahwa Goguryeo mungkin didirikan lebih awal, yakni pada abad ke-2 SM. Dalam kitab sejarah kuno Tiongkok, Han Shu, kata Goguryeo dalam aksara Tionghoa (高句麗) pertama kali ditulis pada tahun 113 SM dimana saat itu adalah sebuah negara kecil yang berada dalam kendali distrik Xuantu. Dalam catatan Kitab Kuno Tang, disebutkan bahwa Kaisar Taizong dari Dinasti Tang menyebutkan bahwa sejarah Goguryeo mendekati 900 tahun. Pada tahun 75 SM, sekelompok suku bernama Yemaek, yang diperkirakan merupakan elemen asli warga Goguryeo, melakukan penyerangan terhadap Distrik Xuantu dari sebelah barat lembah Sungai Yalu.

Bagaimanapun, dari bukti-bukti tertulis dari kitab-kitab sejarah Tang, Samguk Sagi, Nihon Shoki dan sebagainya cenderung mendukung tahun 37 SM atau pertengahan abad ke-1 SM untuk pendirian Goguryeo. Pembuktian dari benda-benda arkeologis mungkin mendukung keberadaan suku Yemaek pada abad ke-2 SM, namun tiada bukti langsung yang bisa menjelaskan apakah mereka menyebut kelompok mereka sebagai warga Goguryeo. Penyebutan pertama kata Goguryeo sebagai kelompok yang dikait-kaitkan dengan suku Yemaek dapat ditemukan dalam referensi di Han Shu yang menceritakan pemberontakan Goguryeo tahun 12 M, ketika mereka melepaskan diri dari pengaruh Xuantu. Pada saat ini pula para pemimpin Goguryeo mulai mengganti gelarnya menjadi gelar pemimpin Tiongkok, "wang" (Raja; 王).

Pada pendiriannya, kemungkinan warga Goguryeo adalah kombinasi dari orang Buyeo dan Yemaek. Babad Tiongkok San Guo Zhi menyebutkan dalam bagian berjudul Catatan mengenai Barbarian dari Timur, menyebutkan bahwa suku Buyeo dan Yemaek berkaitan secara etnis dan berbicara dalam bahasa yang sama.

Sumber :Wikipedia